Tiga Tahun Perjuangan, Nasril K D. Salum Tuntaskan Hafalan 30 Juz

TNews, Buol – Di usia 15 tahun, seorang anak yatim dari keluarga sederhana membuktikan bahwa mimpi bisa diraih dengan tekad 30 juz Al-Qur’an kini tersimpan dalam ingatannya.

Pagi itu, Sabtu 3 Januari 2026, Nasril K D. Salum duduk dengan tenang di hadapan para ustaz Pondok Pesantren Al Azhar.

Di depannya, tidak ada buku, tidak ada catatan. Hanya mushaf suci yang tertutup, sebagai saksi bisu perjalanan panjangnya selama tiga tahun terakhir.

Satu per satu ayat mengalir dari bibirnya. Lancar, tartil tanpa keraguan.

Ini bukan sekadar ujian hafalan. Ini adalah puncak dari ribuan malam yang ia habiskan untuk mengulang, memperbaiki, dan meyakinkan diri bahwa setiap huruf, setiap harakat, tersimpan sempurna dalam memori.

Nasril anak keempat dari lima bersaudara yang kehilangan sosok ayah di usia dini—kini berdiri sebagai penghafal 30 juz Al-Qur’an. Di usia yang bahkan belum genap 16 tahun.

 

Perjalanan yang Tidak Mudah

Tiga tahun lalu, Nasril adalah bocah biasa dengan latar belakang yang jauh dari istimewa. Keluarganya hidup dalam keterbatasan. Sebagai anak yatim, ia tahu betul arti perjuangan—bukan hanya untuk mengejar ilmu, tetapi juga untuk sekadar bertahan.

Namun di balik kesederhanaan itu, ada tekad yang membara.

“Nasril itu santri yang pendiam, tapi kalau soal belajar, dia tidak pernah mengeluh,” kenang salah satu ustaz yang membimbingnya.

“Bahkan ketika teman-temannya beristirahat, dia masih terlihat mengulang hafalan di pojok pesantren.”

 

Disiplin. Konsisten. Rendah hati.

Tiga kata itu seperti melekat pada diri Nasril. Setiap hari, ia bangun lebih pagi, tidur lebih larut.

Tidak ada hari libur dalam kamus hafalannya. Yang ada hanya target juz demi juz, halaman demi halaman, ayat demi ayat.

 

Lebih dari Sekadar Hafalan. 

Bagi banyak orang, menghafal Al-Qur’an adalah prestasi spiritual. Namun bagi Nasril, ini adalah janji kepada dirinya sendiri bahwa keterbatasan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.

“Saya ingin membuktikan bahwa anak seperti saya juga bisa,” ujarnya dengan suara yang hampir berbisik, penuh kerendahan hati.

Di lingkungan Pondok Pesantren Al Azhar, Nasril tumbuh bukan hanya sebagai penghafal Al-Qur’an, tetapi juga sebagai teladan.

Sopan santun kepada ustaz, perhatian kepada sesama santri, dan sikap bersahaja dalam kehidupan sehari-hari semua itu menjadi bagian dari proses panjang yang membentuknya.

“Menghafal Al-Qur’an bukan hanya soal kemampuan otak,” kata salah satu pengurus pesantren.

“Ini soal hati, kesabaran, dan akhlak. Dan Nasril memiliki semuanya.” tambahnya.

 

Khataman Kubro: Perayaan Penuh Haru

Pada Minggu, 4 Januari 2026, khataman kubro dan tasyakuran digelar sebagai puncak perayaan. Seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Al Azhar hadir.

Ada air mata haru, da senyum bangga, ada doa-doa tulus yang dipanjatkan untuk Nasril dan masa depannya.

Acara ditutup dengan makan bersama hidangan sederhana yang disajikan dengan penuh kehangatan.

Tidak ada kemewahan, tetapi ada kebersamaan. Ada rasa syukur yang tulus atas pencapaian seorang santri yang membuktikan bahwa ketekunan bisa mengalahkan segala keterbatasan.

 

Inspirasi untuk Banyak Orang

Kisah Nasril bukan hanya milik Pondok Pesantren Al Azhar. Ini adalah kisah universal tentang perjuangan, harapan, dan kemenangan kecil yang luar biasa bermakna.

Di tengah dunia yang sering kali mengukur kesuksesan dari materi, Nasril mengingatkan kita bahwa ada kekayaan lain yang jauh lebih berharga kekayaan ilmu, kekayaan spiritual, dan kekayaan karakter.

Hari ini, di usianya yang ke-15, Nasril K D. Salum bukan hanya penghafal 30 juz Al-Qur’an.

Ia adalah bukti hidup bahwa mimpi sekecil apa pun, bisa diraih oleh siapa saja asalkan ada tekad yang tidak pernah padam.

Dan perjalanannya, baru saja dimulai.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan