TNews, TOUNA — Atlet tenis asal Kabupaten Tojo Una-Una, Arif S. Bandu, berhasil meraih juara pertama dalam turnamen tenis yang digelar di Arena Tenis Bogor pada 1 Februari 2026. Namun, di balik trofi kemenangan itu tersimpan kisah perjuangan yang jarang diketahui publik.
Arif menceritakan bahwa dirinya bersama atlet lainnya harus berjuang secara mandiri untuk mengikuti turnamen tersebut. Sebagian besar biaya, mulai dari pendaftaran, transportasi, hingga kebutuhan selama berada di lokasi pertandingan, ditanggung sendiri. Bantuan yang diterima hanya berasal dari sponsor kecil dan dukungan terbatas dari KONI Tojo Una-Una.
“Iya, kemarin kami sempat ajukan proposal ke KONI Touna. Harapan kami sederhana, bisa bertanding dengan semangat dan sportif, membawa nama daerah, lalu pulang dengan bangga,” ujar Arif kepada media ini, Rabu (18/2/2026).
Awalnya, Arif mengikuti turnamen melalui penyelenggara dengan biaya pendaftaran sekitar Rp600.000. Bagi atlet daerah, nominal ini bukan sekadar biaya administrasi, tetapi bagian dari pengorbanan panjang demi bisa tampil di arena kompetisi dan membawa nama daerah ke tingkat yang lebih luas.
Namun, setelah kemenangan diraih, total hadiah yang diumumkan sekitar Rp12 juta, tetapi uang tunai yang diterima Arif hanya Rp2,5 juta. Sisanya berupa voucher yang tidak dapat dimanfaatkan secara langsung.
“Dari dua belas juta itu uang cash yang kami terima Rp2,5 juta, sisanya voucher, seperti voucher umrah Rp6 juta. Kecuali saya punya dana tambahan baru bisa saya gunakan,” ungkap Arif lirih.
Sebelumnya, brosur promosi di media social diduga menyebut total hadiah turnamen mencapai sekitar Rp120 juta untuk beberapa kategori. Bagi para atlet, angka tersebut bukan sekadar iming-iming, tetapi harapan agar biaya latihan dan perjalanan yang mereka tanggung sendiri dapat tertutupi.
Meski demikian, Arif mengaku tidak melayangkan protes keras atas kondisi yang dialaminya. Ia memilih menjadikan pengalaman ini sebagai pelajaran berharga tentang realitas perjuangan atlet daerah yang sering kali harus berangkat dengan keterbatasan dukungan.
Ia menambahkan bahwa dirinya akan terus mengikuti ajang lain di masa mendatang, dengan biaya mandiri yang akan dikumpulkan melalui melatih para atlet lain dan kerja kerasnya sendiri.
Kisah Arif mencerminkan kenyataan yang dihadapi banyak atlet daerah,berjuang dengan kemampuan sendiri, bertanding dengan penuh semangat membawa nama daerah, namun belum selalu mendapatkan dukungan dan kepastian yang memadai.
“Saya berharap ini menjadi pengalaman terakhir bagi saya, dan tidak terjadi lagi pada atlet lain. Tapi saya tetap semangat dan akan terus berjuang demi prestasi dan nama baik Touna,” pungkasnya dengan senyum optimis.*
Peliput: Jefry







